KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kekhadirat Illahi Robby, karena berkat rahmat dan karunia-Nya maka kajian ilmiah dengan judul “ Ternyata anak jalanan juga berperan terhadap peningkatan mutu negara dan bangsa “ ini, dapat saya susun.
Penulisan buku ini dimaksudkan untuk menunjang program pemerintahan dan mudah-mudahan dapat memberikan solusi bagi masalah-masalah yang kita hadapi, Karena saya yakin tidak ada manusia yang steril dengan masalah selama hayat masih dikandung badan. Masalah hidup akan senantiasa hadir bahkan kehadirannyapun sebagai pelengkap hidup itu sendiri. Bergantung pada arah mana kita memandang masalah itu atau mungkin menjadi batu loncatan dan menjadi way out untuk mencapai yang lebih baik.
Jika kita memahami masalah sebagai batu loncatan, maka kemunculannya akan membuat kita berfikir keras, introsfeksi diri apabila kita mendapat masalah akan melahirkan inovasi baru untuk berbuat lebih baik lagi. Secara fsikologis kita akan semakin dewasa dalam menghadapi kehidupan.
kian deras masalah yang dihadapi, semakin deraslah kita dalam menyikapi hidup.
Bukan seberapa besar masalah yang dihadapi, tapi seberapa lapang hati kita dalam menghadapi masalah tersebut. Apa sih cobaan terberat dalam hidup kita hingga saat ini? Cobaan yang menjadikan kita merasa terpuruk dalam waktu yang berkepanjangan. Yang membuat kita merasa putus asa dan lelah dalam menghadapi hidup ini. Dapat nilai jelek dalam ujian? Atau Tidak didekati teman dalam artian dicemoohkan dari kehidupan ... ?
Aku sering berkata.................
“Mimpiku Untukmu Indonesiaku “ meski Aku terbangun dari kotor dan dinginnya bawah jembatan ini. Begitu juga dari suara-suara kendaraan bermotor yang silih berganti. Tapi ini sudah biasa bagiku. Ketika kubuka mata ini, pikiran dan perutku seakan mengerti. Saatnya kucari sesuap nasi....
Ketika sebuah bangsa berdiri, pasti ada suatu tujuan bersama untuk menggapai suatu impian. Impian itu pasti berisi harapan-harapan baik dan sebuah prestasi yang membanggakan. Tak hanya itu, impian sebuah bangsa pastinya adalah menjadikan warganya memiliki...
Mimpi dalam keseharian kita bermakna bunga tidur. Bunga, selalu identik dengan keindahan. Keindahan akan memberikan kedamaian pada hati setiap insan. Mimpi juga bisa menjadi kekuatan penyemangat saat kita mengharap sesuatu yang dicita-citakan....
Meski untuk sesuap nasi kami harus Menelusuri rimba rayanya kota, tertatih pada rintih kaki dan berpeluh pada guritan derita.
Kakiku terus melangkah,sementara perutku pun terus mendendangkan lagu keroncongnya. Kutilik dibalik rumah mewah itu.
Bahagia sekali, mereka sarapan pagi bersama dengan makanan telah tersaji diatas meja. Sementara aku??
Berapa kilometer lagi harus kutempuh??
“Aku tak seberuntung mereka”.
Di teriknya matahari yang seakan ingin membakar kulitku, aku harus mengais rejeki. Di jalanan, di perempatan, di warung-warung, tak peduli betapa teriknya siang ini. Dengan lagu kudendangkan juga dengan tangan menengadah. Pengemis, pengamen, mungkin itu kata yang lebih tepat. Anak jalanan, anak terlantar, apapun kata mereka aku tak peduli. Buat aku yang terpenting adalah bagaimana menyambung nyawaku.
Kutengok di balik gedung itu. Nyamannya mereka, tidak kepanasan, duduk disana, mendapatkan pendidikan, mendapatkan teman pula. Inginnya aku bersekolah. Tapi uang dari mana? Bagaimana bisa? Kalaupun telah ada sekolah gratis, belum tentu yang lainnya gratis. Kalaupun aku sekolah, bagaimana aku bisa mencari sesuap nasi? Sekali lagi aku harus berkata, “Aku tak seberuntung mereka”.
Lalu ketika senja tiba. Kutahu hari kan gelap. Gelap pula harapanku, ku tahu malam ini aku harus tidur di emperan toko, di kolong langit, bahkan di kolong jembatan. Tanpa peduli apa yang akan terjadi nanti. Hujankah? Hemmm… hujan? Dinginnya malam adalah selimutku. Kardus bekas adalah kasurku. Tak ada bantal dan guling untukku.
Guling dan bantalku telah mati. Diambil Tuhan, bahkan disaat aku ingin merasakan hangatnya pelukan ibu. Yang tersisa hanyalah sebuah kenangan dan dingin yang menusuk kalbu. Sementara aku disini, anak-anak lain tidur menggunakan kasur, selimut tebal, bahkan hangatnya pelukan orang tua. Dan untuk kesekian kalinya, aku harus berkata
“Aku tak seberuntung mereka” .
Ibu, ingin ku mengadu. Mereka bilang aku anak terlantar, mereka bilang aku anak jalan yang tak pantas jadi teman mereka. Mendekat saja mereka tak mau. Ibu…temanku hanya kepahitan hidup. Isak tangis kutahan, senyum palsu kuperlihatkan. Ingin kutunjukan ketegaran pada diriku, meskipun sebenarnya aku rapuh.
Miris… melihat mereka menapaki kepahitan hidup. Tak ada yang peduli, bahkan menganggapnya jijik. Fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh Negara, jelas tertera dalam UUD 1945. Namun, faktanya tidak seperti itu. Mereka dipinggirkan oleh Negara, bahkan diliriknya saja tidak. Apa pemerintah lupa? Ataukah hanya berpura-pura?
Anak terlantar (anak jalanan) justru diperlihara oleh Babeh. Mereka mendapat perlakuan buruk, disodomi, tempat pelampiasan nafsu seksnya. Kejahatan terhadap anak-anak jalanan kerap terjadi. Dan pemerintah seakan-akan pura-pura, alih-alih memelihara anak terlantar, pemerintah malah memelihara para koruptor.
Harapanku untuk Indonesiaku adalah agar pemerintah benar-benar mencerna dan memahami redaksional dari pasal 34 ayat 1 UUD 45 yang berbunyi “ Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Agar mereka mendapatkan perlindungan yang lebih baik.
Mudah-mudahan dalam kajian ilmiah ini, dapat memberikan motivasi baru yang melahirkan harapan-harapan yang baru dan menjadi anugrah agar kita dapat terus berintrosfeksi diri.Terutama untuk kami anak jalanan, Karena bagi kami Tak ada kata terlambat untuk memulai yang baik. Selama nyawa masih kami punya kata taubat tak akan pernah terlambat.
Insyaalloh Buku mini yang saya buat akan memberikan banyak hal sebagai ibroh bagi kehidupan. Apabila dalam kajian ini ada kalimat yang tidak berkenan, mohon maaf yang sebesar-besarnya dan semoga saja buku mini ini hadir dan memberi kekayaan pada pemikiran kita semua amin.
Cimahi, .....22 Desember 2010
Afes jutek
( Jalma anu hireup ku panyukup, gede ku barang pamere )
"Jangan sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sedikitpun.
Walau hanya engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri."”
sumber: {H.R. Muslim no. 6633}
Walau hanya engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri."”
sumber: {H.R. Muslim no. 6633}
Dari kutipan hadits inilah saya terinspirasi untuk membuat buku yang berjudul “Ternyata anak jalanan juga berperan terhadap peningkatan mutu agama islam” Mudah-mudahan buku ini memberi banyak ibroh untuk anda yang membacanya, amin.
Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w, “Wahai Rasulullah, apakah iman itu?” Jawab Rasulullah s.a.w, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian. Juga engkau beriman dengan Qadar baiknya, buruknya, manisnya dan pahitnya adalah dari Allah s.w.t”
Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali
Pada Hakikat Manusia itu ada hakikat yang menguasai satu individu manusia dan hubungkaitnya dengan segala kejadian alam yang lain. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Nabi” pasti menjadi nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Wali” pasti akan menjadi wali. Suasana pentadbiran Allah s.w.t atau hakikat itu menguasai roh yang berkaitan dengannya. Roh bekerja mempamerkan segala maklumat yang ada dengan hakikat yang menguasainya. Kerja roh adalah menjalankan urusan Allah s.w.t iaitu menyatakan hakikat yang ada pada sisi Allah s.w.t.
Dan katakanlah olehmu: “ Roh itu dari perkara urusan Tuhanku”. ( Ayat 85 : Surah Al-Israa’ )
Pengertian Anak jalanan
Anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengankeluarganya. Tapi hingga kini belum ada pengertian anak jalanan yang dapat dijadikan acuan bagi semua pihak.
Pengelompokan
Ditengah ketiadaan pengertian untuk anak jalanan, dapat ditemui adanya pengelompokananak jalanan berdasar hubungan mereka dengan keluarga. Pada mulanya ada dua kategorianak jalanan, yaitu children on the street dan children of the street. Namun padaperkembangannya ada penambahan kategori, yaitu children in the street atau seringdisebut juga children from families of the street.
Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatanekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompokanak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya dansenantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomidan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengancara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.
Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar
waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan
orangtua atau keluarganya.
Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang
menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau
tinggalnya juga di jalanan.
SOLUSI
Terdapat beberapa alternatif“ KES EM PATAN” yang anak jalanan perlukan :
Pendampingan. Karena perlakuan keluarga maupun lingkungan menyebabkan anak jalanan terkadang merasa bahwa mereka adalah anak yang tersingkirkan dan tidak dikasihi, olehnya kita dapat memulihkan percaya diri mereka. “Uang” kita dapat dialihkan dengan waktu yang kita berikan untuk mendampingi mereka. Dengan sikap “Penerimaan kita” tersebut dapat mengatasi “luka masa lalu” mereka.
Bantuan Pendidikan. Kita dapat membantu mereka dalam pendampingan bimbingan
belajar, memberikan kesempatan mereka untuk sekolah lagi dengan Beasiswa,
Bimbingan Uper (Ujian Persamaan) untuk anak yang telah melewati batas usia sekolah.
“Uang” kita dapat kita konversi menjadi “Beasiswa” (memang pemerintah telah
membebaskan uang SPP untuk sekolah negeri, Namun hal tersebut digantikan dengan
pungutan lainnya bahkan lebih mahal dari pada uang SPP yang telah dihapuskan dengan
mengatas namakan “uang buku”, “uang kegiatan” dan lain-lainnya.
belajar, memberikan kesempatan mereka untuk sekolah lagi dengan Beasiswa,
Bimbingan Uper (Ujian Persamaan) untuk anak yang telah melewati batas usia sekolah.
“Uang” kita dapat kita konversi menjadi “Beasiswa” (memang pemerintah telah
membebaskan uang SPP untuk sekolah negeri, Namun hal tersebut digantikan dengan
pungutan lainnya bahkan lebih mahal dari pada uang SPP yang telah dihapuskan dengan
mengatas namakan “uang buku”, “uang kegiatan” dan lain-lainnya.
Bantuan Kesehatan. Dengan latar belakang pendidikan yang rendah serta lingkungan
yang tidak sehat mengakibatkan mereka rentan dengan sakit penyakit. Pada kondisi
sekarang mereka bukanlah tidak memiliki uang untuk berobat namun kesadaran akan
mahalnya kesehatan sangat rendah dalam lingkungan mereka. Uang kita dapat kita rubah
menjadi penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan untuk awareness, subsidi obat-
obatan serta subsidi perawatan kesehatan.
yang tidak sehat mengakibatkan mereka rentan dengan sakit penyakit. Pada kondisi
sekarang mereka bukanlah tidak memiliki uang untuk berobat namun kesadaran akan
mahalnya kesehatan sangat rendah dalam lingkungan mereka. Uang kita dapat kita rubah
menjadi penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan untuk awareness, subsidi obat-
obatan serta subsidi perawatan kesehatan.
Penyediaan Lapangan Pekerjaan. Sebagai contoh yang baik, Carrefour melakukan
terobosan yang sangat bagus dengan menerima 4 anak jalanan yang cukup umur untuk
bekerja di perusahaannya. Langkah ini merupakan salah satu obat mujarab terhadap
penyakit masyarakat yang menjangkit bahkan telah mulai membusuk dalam bangsa ini.
Bayangkan jika terdapat “Carrefour” yang lainnya dapat membuka kesempatan tersebut,
mungkin jalanan akan sepi dengan anak anak jalanan karena orang tua mereka telah
mulai bekerja. Profile keluarga dikembalikan seperti semula, orang tua menjadi penopang
keluarga
terobosan yang sangat bagus dengan menerima 4 anak jalanan yang cukup umur untuk
bekerja di perusahaannya. Langkah ini merupakan salah satu obat mujarab terhadap
penyakit masyarakat yang menjangkit bahkan telah mulai membusuk dalam bangsa ini.
Bayangkan jika terdapat “Carrefour” yang lainnya dapat membuka kesempatan tersebut,
mungkin jalanan akan sepi dengan anak anak jalanan karena orang tua mereka telah
mulai bekerja. Profile keluarga dikembalikan seperti semula, orang tua menjadi penopang
keluarga
Bantuan Pangan. Dengan tingginya harga sembako membuat rakyat marginal tidak
mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan “Uang” dapat kita konversi
dengan bantuan pangan dengan mengadakan Bazaar sembako murah, kembali kita tidak
boleh memberikan kepada mereka secara gratis.
mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan “Uang” dapat kita konversi
dengan bantuan pangan dengan mengadakan Bazaar sembako murah, kembali kita tidak
boleh memberikan kepada mereka secara gratis.
KESIMPULAN
Terlihat bahwa kehidupan kelurga sedang mengalami masa transisi dari kehidupan keluarga besar menjadi keluarga inti, dari budaya tradisional pedesaan menjadi budaya modern perkotaan. Karena itu, kehidupan mereka ini sangat rentan terhadap setiap kondisi, perubahan dan pengaruh lingkungan yang terjadi. Selain itu, pendapat mereka kurang dapat menopang secara keseluruhan kebutuhan keluarga.Tentu faktor ini juga menjadi faktor penyebab percepatan perubahan dalam kehidupan keluarga tersebut.Mungkin suatu saat mereka akan melakukan apa saja untuk menghidupi keluarga karena tuntutan kebutuhan dan perubahan yang terjadi.
Dalam pola asuh keluarga terhadap anak, pihak orang tua atau keluarga mulaimemberikan kebebasan yang lebih besar kepada anak.Jelas hal ini akanmemberikan akses interaksi sosial yang semakin luas terhadap anak untuk bergauldengan teman-temannya.Sesungguhnya akses ini akan memberikan peluangkepada anak untuk mengembangkan kreativitas, kemandirian dan wawasan anak,bilamana dapat diimbangi dengan kontrol keluarga yang baik.Namun, sebaliknyabila keluarga tidak dapat mengontrolnya, tidak mustahil akan terjadi perilaku-perilaku yang a-sosial terhadap anak.Karena itu, perlu dilakukan pemberdayaan-pemberdayaan terhadap keluarga.
Lama waktu yang dihabiskan anak berada di tempat-tempat hiburan tersebutsebagian besar antara 1-3 jam; digunakan untuk berkunjung ke tempat-tempattersebut adalah pada malam hari antara 19.00 – 21.00; dan sebagian lagi padasiang hari antara 13.00 – 17.00 WIB, sisanya tidak tentu, mungkin pada sianghari, sore hari, malam hari, atau larut malam.Waktu-waktu ini sesungguhnyamerupakan waktu yang sangat rawan bagi kehidupan anak.Namun ini dapatterjadi karena fungsi keluarga dan lingkungan sosial tidak dapat berfungsisebagaimana yang diharapkan.
Terlihat adanya kesamaan persepsi antara orang tua dengan anak dalammelihat beberapa variabel sikap dan perilaku sebagai perilaku nakal, seperti ;membolos sekolah, melawan guru, mejeng di pertokoan, bergadang di jalanan,pulang larut malam, tidak pulang ke rumah, berkelahi tawuran, minuman keras,narkotika, seks bebas, mencuri, memeras, membajak atau merampok.Namun,beberapa variabel sikap dan perilaku tidak dilihat sebagai perilaku nakal baik olehanak maupun orang tua itu sendiri, seperti : berbohong, merokok, terlambatsekolah, dan tidak mau belajar.Pemandangan seperti ini akan menjadi titikmasuk yang memberikan peluang ke pada anak untuk menjadi nakal.
Menurut para remaja ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinyakenakalan anak, seperti: pengaruh media massa khususnya TV dan film, faktorteman sebaya dan masyarakat sekitar, kurangnya perhatian orang tua dan tidakadanya kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan anak di rumah.
Beberapa upaya yang perlu dilakukan dalam mencegah kenakalan remaja,yaitu anak harus dilatih tertib dan disiplin, kerukunan dan kehangatan dalamkeluarga harus tetap dibina, anak harus dianjurkan untuk tetapmelakukankewajiban-kewajiban ibadah, orang tua harus dapat menjadi tauladan bagi anak,orang tua harus lebih memperhatikan kehidupan anak dan anak harus diberikankegiatan-kegiatan positif dalam keluarga yang dapat mencegah anak berbuat nakal.
Program-pogram yang ditawarkan kepada masyarakat khususnya dari pihakpemerintah dalam rangka mencegah sikap dan perilaku tindak tuna sosial belumsepenuhnya dapat menjawab permasalahan keluarga yang sesungguhnya.Program yang ditawarkan belum mampu merubah aspek kognitif, efektif danpsikomotorik dari masyarakat tersebut, program yang ditawarkan lebih banyak
menekankan pada aspek bantuan fisik.Sedangkan program dari pihak LSM atauorganisasi sosial dapat dikatakan lebih masuk pada aspek kognitif, efektif danpsikomotorik kemudian diikuti oleh bantuan oleh bantuan fisik. Namun,frekuensinya masih terbatas karena dana terbatas.
Fenomena Anak Jalanan
Oleh: Yamin Setiawan"Jreng... jreng... 100 pak..." "Plok... plok... cepek mas..."
Fenomena diatas sering kita jumpai di jalan-jalan... di perempatan jalan... di pemberhentian lampu lalu lintas. Kita sering menyebut mereka sebagai pengamen atau anak jalanan. Apakah sebenarnyadefinisi anak jalanan?
Menurut departemen sosial, seseorang akan dikatakan anak jalanan bila:
- Berumur dibawah 18 tahun
- Berada dijalan lebih dari 6 jam sehari, 6 hari seminggu
Apa yang kita lihat sekarang dijalan-jalan? Apakah sudah memenuhi kriteria sebagai anak jalanan?
Ada berapa type anak jalanan?
Anak-anak jalanan mempunyai type:
- Anak jalanan yang masih memiliki dan tinggal dengan orang tua.
- Anak jalanan yang masih memiliki orang tua tapi tidak tinggal dengan orang tua.
- Anak jalanan yang sudah tidak memiliki orang tua tapi tinggal dengan keluarga.
- Anak jalanan yang sudah tidak memiliki orang tua dan tidak tinggal dengan keluarga.
Mengapa mereka tetap menjadi anak jalanan?
Banyak penampungan, rumah singgah dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang mengurus masalah anak jalanan, tapi anak-anak jalanan makin banyak dan malah berkembang semakin pesat. Yang sudah di sekolahkan malah keluar dari sekolahnya serta kembali menjadi pengamen dan peminta-minta. Menurut teori reinforcement: "sesuatu yang menyenangkan akan selalu diulang, sesuatu yang tidak menyenangkan akan dihindari". Mereka menganggap sekolah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan (punishment) dan dengan mengamen / meminta-minta di jalan adalah sesuatu yang menyenangkan (reward) karena akan mendapatkan banyak uang untuk bersenang-senang. Apalagi sekarang ini menjadi anak jalanan adalah sesuatu yang "TOP", mereka diundang dan dapat bersalaman dengan presiden pada hari kemerdekaan / hari anak-anak / hari khusus lainnya, itu adalah sesuatu reinforcement yang hebat.
Bagaimanakah anak-anak jalanan itu menurut teori psikoanalisis?
Menurut teori Sigmund Freud, manusia memiliki Id, Ego dan Superego. Id adalah keinginan / hasrat badaniah manusia, misalnya ingin makan, ingin minum, hasrat sex, dll. Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada diluar dirinya, mengatur kepribadian, tempat kedudukan intelegensi dan rasionalitas. Superego merupakan kode moral seseorang, yang memberikan larangan-larangan bila dianggap tidak benar. Manusia dianggap ideal bila memiliki Id, Ego dan Superego yang sama besar, yang seimbang. Anak-anak jalanan memiliki Id yang lebih besar dari pada Superego. Ini terbentuk karena tidak adanya didikan, sopan santun dan tata krama dari orang tua. Seorang anak akan dimarahi dan diperingati oleh orang tua mereka bila makan sambil jalan sehingga superego mereka akan terbentuk (bahwa makan sambil jalan itu adalah sesuatu yang tidak benar) tetapi seorang anak jalanan tidak pernah ada yang memperingati mereka bila mereka kencing sambil berjalan sekalipun.
Dulu sering kita melihat anak-anak jalanan mencoret mobil bila tidak diberi uang, kenapa mereka mempunyai keberanian seperti itu?
Menurut teori share responsibility, seseorang akan lebih berani melakukan sesuatu bila bersama-sama dengan kelompoknya. Seorang cewek tidak akan berani melakukan sesuatu bila ada cowok yang lewat, tapi bila dia berada didalam suatu kelompok, dia akan berani bersiul dan mungkin akan berseru:
"Cowok... godain kita dong.."
Bila seseorang berada didalam kelompok, rasa tanggung jawab, mereka pikul bersama-sama.
Bagaimana kita melihat fenomena anak jalanan sekarang ini?
Bagaimana penanggulangannya?
Apakah itu urusan pemerintah?
Ataukah kita sebagai masyarakat juga ikut bertanggung jawab dalam masalah ini?
22 Desember 2010
Anak jalanan tidak perlu dirazia karena ia bukan sumber masalah. Keberadaan anak jalanan di setiap persimpangan jalan adalah fenomena, gejala tentang gambaran nyata kondisi kemiskinan suatu kota dan gambaran kemiskinan bangsa kita. Penanganan anak jalanan harus dilakukan secara profesional. Jika tidak, berpotensi lost generation.
Direktur Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI Makmur Sanusi menegaskan hal itu, Kamis (21/1/2010) di Jakarta, terkait kecaman terhadap razia anak jalanan, sebagaimana diberitakan Kompas(Kamis). Penanganan anak jalanan harus mengacu ke peraturan dan undang-undang tentang perlindungan anak.
"Mereka tidak perlu dirazia, apalagi sampai pemeriksaan dubur. Penanganannya harus dengan pendekatan persuasif. Anak jalanan jangan dijadikan obyek, tetapi adalah subyek," katanya.
Makmur Sanusi menjelaskan, sebenarnya Kementerian Sosial sudah punya cara dan format penanganan anak jalanan yang profesional, tetapi karena anggaran negara yang terbatas pasca-habisnya bantuan UNDP dan ADB untuk penanganan yang intensif, terjadi pembengkakan jumlah anak jalanan. Sebab, ada kekosongan dalam penanganan.
Disebutkan, penelitian yang dilakukan Atmajaya di 12 kota tahun 1996, anak jalanan ada lebih kurang 36.000. Estimasi sekarang ada sekitar 100.000. Di masa program ADB tahun 1995-1999, tiap rumah singgah dapat bantuan Rp 300 juta. Di 12 kota waktu itu terdapat 316 rumah singgah. Setiap rumah singgah ada pendamping atau pekerja sosial yang menangani persoalan anak telantar.
Yang diberikan pendampingan tidak hanya anak jalanan, tetapi juga orangtuanya. Orangtuanya diberikan pelatihan dan diberi modal usaha. Sedangkan kepada anaknya, ada tutorial yang menangani masalah pendidikan mereka, jelas Makmur Sanusi.
Tentang masih minimnya anggaran, Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial itu melukiskan, setahun anggaran untuk penanganan anak jalanan itu sekitar Rp 2 miliar. Dengan demikian, masing-masing rumah singgah yang dikelola lembaga swadaya masyarakat hanya mendapat bantuan stimulan sekitar Rp 97 juta. Kalau bantuan tidak sebesar ADB yang Rp 300 juta/LSM, idealnya Rp 150 juta/LSM, dengan indeks Rp 1,25 juta per anak setahun.
Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial sudah menjelaskan kondisi faktual anggaran anak jalanan yang masih minim tersebut kepada DPR RI dan dijanjikan akan ada anggaran tambahan dari APBN.
Menurut Makmur Sanusi, jika anak jalanan tidak ditangani secara profesional, dikhawatirkan akan terjadi generasi yang hilang di Indonesia.
Siang itu pemandangan di pertigaan Gellael tidak berbeda dengan hari-hari biasa. Pemandangan ketika lampu lalu lintas menyala merah. Pemandangan ketika anak-anak jalanan berhamburan menghampiri orang-orang yang terpaksa berhenti. Pemandangan ketika anak-anak menjulurkan tangan -- sebagian sambil mengelus-elus perut, sebuah ungkapan yang menggantikan kalimat "aku lapar". Pemandangan ketika seorang ibu ikut menjulurkan tangan kanannya, sementara tangan kiri menahan kain yang menutupi tubuh bayinya -- sebuah ungkapan kasih naluriah seorang ibu yang sedang melindungi bayinya dari panas terik matahari.
Beberapa orang tidak mempedulikan anak-anak ini, tetapi ada juga pengendara motor yang merogoh kantong atau pengendara mobil yang merogoh tempat uang receh di pintu mobilnya. Uang yang memang sudah dipersiapkan untuk keperluan seperti ini, ataupun keperluan lain juga.
Begitu lampu hijau menyala, anak-anak ini menyingkir; ibu dengan bayinya juga ikut menyingkir. Sebagian naik ke jalur hijau, sebagian lagi kembali ke pinggir jalan, menunggu lampu merah menyala kembali. Para pengendara yang sudah memberi uang receh maupun yang tidak punya kepedulian juga melanjutkan perjalanannya.
Inilah pemandangan sehari-hari di persimpangan Ramayana Cianjur
***
Afes, seorang anak berumur Dua belas tahun juga ikut menghambur kejalan begitu lampu menyala merah. Anak ini juga ikut mencari makan. Ayahnya, seorang bapak jalanan; ibunya, seorang ibu jalanan terpaksa membiarkan anaknya hidup dengan cara seperti ini.
Ibunya pernah bercerita, sejak bayi anaknya ini sudah ikut mencari makan, dengan cara menangis dalam gendongan. Sekarang mereka sudah berpisah. Masih-masing mencari makan di tempat terpisah. Ayah mengemis di pasar, ibu mencari uang di perempatan sekitar beberapa kilometer dari persimpangan Gellael.
Dulu, keluarga ini selalu berkumpul begitu malam tiba, tetapi akhir-akhir ini Afes sudah malas pulang ke pondok orang tuanya. Ia lebih suka berkumpul dengan teman-temannya di emperen stasion. Lebih ramai, dan kadang-kadang bisa ikut menonton televisi, melihat orang-orang kaya dengan rumah bagusnya.
Kadang ia main ke tempat orang tuanya, mereka juga kadang-kadang menengoknya di stasion. Melihat apakah anak mereka satu-satunya ini bisa makan di dunia yang katanya begitu kejam ini.
Afes tidak pernah ingat mulai kapan mencari makan sendiri, yang pasti bukan orang tuanya yang menyuruh. Ia melihat teman-temannya meminta uang di dekat lampu merah, ia menganggapnya sebagai sebuah bentuk permainan. Lama kelamaan melakukannya karena merasa itu harus dilakukan kalau tidak ingin kelaparan. Sama sekali tidak seorangpun menyuruh atau memaksanya.
Tidak ada yang istimewa siang itu, suasananya di persimpangan terminal biasa-bisa saja. Tetapi entah datang darimana, tiba-tiba beberapa orang berlarian ke arah anak-anak yang sedang mencari makan, lalu melakukan penangkapan, Afes dan kawan-kawannya tidak sempat melarikan diri. Ibu dengan anak dalam gendongannya juga tidak sempat melarikan diri. Semua dimasukkan ke dalam sebuah truk tertutup.
Truk ini melaju ke tempat yang tidak diketahui oleh Afes. Seandainyapun bisa melihat keluar, ia tetap tidak akan bisa tahu ke arah mana truk membawanya. Anak ini sangat ketakutan, apalagi ketika teringat cerita menakutkan tentang orang-orang yang menangkap anak jalanan. Katanya kalau sudah tertangkap, tidak ada yang bisa kembali, tidak tahu entah dibawa ke mana. Seseorang pernah berkata, anak jalanan yang tertangkap akan dibuang ketempat yang sangat jauh.
Perjalanan truk ini pasti sangat jauh, ia bisa merasakannya. Akhirnya truk ini terasa melambat setelah memasuki sebuah belokan, bahkan akhirnya berhenti. Mereka telah sampai ke suatu tempat, tempat yang tidak dikenalnya. Begitu bagian belakang truk terbuka, seseorang dengan lembut menyuruh mereka semua keluar.
Begitu turun, setiap anak mendapat minuman. Lalu anak laki-laki dipisahkan dari anak perempuan. Yang perempuan disuruh mengikuti dua orang wanita ke sebuah bangunan, sedangkan Afes dan kawan-kawannya disuruh mengikuti tiga orang pria ke sebuah bangunan juga, ternyata tempat untuk mandi. Setiap anak menerima sepasang pakaian baru yang bersih begitu selesai mandi.
"Semua berkumpul ke bangunan itu,"
kata seorang bapak sambil menunjuk bangunan besar di dekat tempat mereka mandi. Bangunan ini isinya meja-meja panjang penuh dengan piring dan makanan. Anak ini makin heran dan entah mengapa malah makin ketakutan.
Sesudah makan mereka disuruh keluar lagi, anak laki-laki dan wanita kembali dipisahkan, kali ini anak laki-laki digiring ke sebuah bangunan. Anak perempuan juga digiring menuju bangunan di depannya. Kedua bangunan dipisahkan oleh sebuah tanah lapang. Setiap empat anak disuruh memasuki sebuah kamar. Afes dan tiga anak lain disuruh masuk ke sebuah kamar dengan tempat tidur susun, kamar yang tampak bersih.
"Kalian tidur disini,"
kata bapak yang menyuruh mereka masuk. Lalu berkata kepada Afes, "kamu tidur di atas sini," mungkin karena Afeslah yang paling kecil di antara ketiga temannya.
Hari belum begitu malam, tetapi Afes dan teman-temannya tidak punya pilihan, mereka harus tidur. Afes tidak mengantuk, tetapi entah mengapa langsung tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal yang empuk. Untuk pertama kalinya ia tidur di atas tempat tidur empuk dan bersih.
Ia terbangun begitu mendengar bunyi keras didalam kamar, seperti sirine mobil polisi. Lalu terdengar suara dari kotak hitam di salah satu ujung langit-langit kamar. Suara yang menyuruh mereka keluar dan berkumpul di lapangan yang memisahkan tempat anak laki-laki dengan anak perempuan.
Setelah mandi dan makan, sarapan yang membuat perut Afes sakit, karena tidak terbiasa sarapan pagi, beberapa pria mengantar mereka ke sebuah bangunan lain lagi. Bangunan dengan sebuah ruangan yang sangat besar. Sudah banyak anak berkumpul di dalamnya, anak-anak yang tidak dikenal oleh Afes. Menurutnya jumlahnya sekitar jumlah anak di limapuluh perempatan yang ada lampu merahnya. Semuanya memakai pakaian sama, kaos dengan tulisan yang tidak bisa dibacanya.
"Jangan takut, kami mengumpulkan kalian di sini bukan untuk menghukum kalian. Kami mengumpulkan kalian demi masa depan kalian sendiri,"
kata seorang pria yang duduk di meja menghadap ke arah mereka. Pria ini tampak baik dan penuh belas kasihan, jenis orang yang sangat disukai oleh Afes.
"Kami akan mendidik kalian menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat," lanjutnya dengan penuh semangat, "kami akan mendidik kalian supaya tidak menjadi sampah masyarakat lagi."
Afes tidak mampu mengerti perkataan orang ini, pikirannya melayang ke persimpangan dimana ia seharusnya mencari uang. Juga teringat orang tuanya. Saat ini mereka mungkin masih belum tahu penangkapan itu. Mereka baru mulai mencarinya kalau ia tidak muncul di pondok selama beberapa minggu. Seandainya mereka sudah mendengarnya, ia berharap mereka tidak terlalu cemas.
Menurutnya, bapak ini sudah berbicara sekitar dua puluh kali lampu merah berganti ketika pantatnya mulai terasa sakit. Ia tidak tahan duduk diam seperti ini, benar-benar membosankan. Apalagi tidak bisa berbuat apa-apa, beberapa orang mengawasi mereka. Bapak ini terus berbicara tentang sesuatu yang tidak dimengertinya, tanpa peduli dengan anak-anak yang sedang ketakutan, takut karena belum mengerti.
Afes tahu banyak orang yang baik dan mengasihi dia. Ia juga tahu orang-orang di tempat ini juga baik, tetapi ia merasa takut. Ia sudah terbiasa dengan orang-orang yang menolong tanpa ikatan. Ia sudah terbiasa dengan orang-orang yang pergi begitu saja setelah menolongnya. Ia sekarang ketakutan karena orang-orang baik ini berbicara tentang hal-hal yang tidak dipahaminya.
Akhirnya bapak ini selesai berbicara, lalu anak-anak dibawa ke sebuah bangunan yang penuh dengan mesin dan potongan kayu. Anak-anak dipisahkan ke dalam beberapa kelompok. Kelompok Afes disuruh berkumpul didekat seorang bapak yang sedang merekatkan potongan kayu. Setelah beberapa saat, potongan-potongan itu menjadi sebuah mobil mainan.
Seorang bapak berkata,
"Kalian akan diajarkan supaya bisa melakukan hal seperti ini, juga ketrampilan lainnya."
Selama beberapa hari berikutnya, anak-anak ini bekerja di bangunan yang ternyata bernama bengkel. Kadang-kadang mereka juga disuruh masuk ke sebuah bangunan yang ada papan putih di depannya. Seorang bapak mencoret-coret papan itu, lalu menyuruh mereka menulis garis-garis-garis aneh seperti itu. "lihat ke papan tulis", "tulis ke buku kalian", membuat Afes tahu papan putih itu namanya papan tulis, benda di tangannya bernama buku tulis.
Setelah beberapa minggu ia mulai bosan. Sudah tahu nama hari, jam, cara membuat mainan dari kayu, tidak membuatnya merasa nyaman. Ia sudah belajar banyak hal, tetapi malah merasa bosan. Bosan duduk berjam-jam membuat mainan, bosan mencoret-coret buku tulis, bosan mengingat bentuk corat-coret itu. Bosan mendengar orang lain berbicara panjang lebar. Ia merindukan suasana ketika berlarian setiap kali lampu merah menyala lalu menyingkir begitu lampu hijau menyala.
Makan teratur, disiplin kerja, tidur teratur, sudah menjadi kata yang akrab di telinganya. Tetapi rasanya lebih enak makan kalau sudah dapat uang. Lebih enak tidur di emperan stasion, bisa tidur kalau sudah mengantuk. Lebih enak menonton polisi mengejar orang yang tidak pakai helm daripada menulis huruf-huruf aneh. Kebosanan membuatnya merindukan pandangan orang-orang yang mengasihi mereka, orang-orang yang nemberi uang lalu pergi.
Suatu hari, ia menemukan banyak tutup botol di sebuah bak sampah. Diam-diam ia mengambil dan menyembunyikannya di kamar – dibawah lemari. Tidak akan ada yang menemukannya di situ. Juga mengambil beberapa paku kecil serta sepotong kayu sebesar baterei dari bengkel. Diam-diam, ketika tidak ada orang di kamar, ia memaku tutup botolnya di sepanjang kayu ini. Bagian pertama rencananya selesai, ketika alat buatannya bisa mengeluarkan bunyi setiap kali dipukul.
Beberapa hari kemudian ia mendapat kesempatan melarikan diri. Ketika teman-temanya sudah tidur, diam-diam ia keluar kamar, lalu memanjat tembok, tidak sampai seperempat jam ia sudah menjadi orang bebas. Dalam hati ia berkata, "aku punya cerita yang bagus untuk diceritakan kepada teman-teman."
Ia tidak tahu berada dimana sekarang -- tidak masalah. Sudah sering orang tuanya membawanya berpindah-pindah. Yang harus dilakukannya hanyalah mencari tempat perhentian bis, lalu naik sambil memukul-mulul tutup botolnya.
Sekarang ia hanya perlu berjalan mengikuti arah bis yang lewat, pasti ada tempat perhentian bis beberapa kilometer lagi. Lalu tidur begitu sampai, besok pagi baru naik –
tidak perduli naik kemana. Masih banyak orang yang penuh belas kasihan.
Ia tidak tahu berada di kota apa sekarang, tidak tahu orang tuanya di mana. Mereka telah mengajarkannya mencari makan dan hidup, semoga mereka tidak terlalu mengkhawatirkannya. Ia akan mencari mereka nanti, tidak sekarang. Saat ini ia harus pergi sejauh-jauhnya dulu.
Afes sama sekali tidak mengantuk, ia telah belajar tentang jam, sehingga tahu telah berjalan selama berjam-jam ketika akhirnya menemukan tempat perhentian bis. Seseorang sedang tidur di situ, pasti orang gila karena membawa buntalan pakaian -- tidak apa-apa. Ia membaringkan diri agak jauh dari orang gila itu, lalu tertidur.
Besok ia akan pergi ke suatu tempat yang tidak diketahuinya –
tidak apa-apa, masih banyak orang yang mengasihi anak jalanan. Ia cuma tinggal memukul-mukul tutup botolnya di sebuah persimpangan, persimpangan yang ada lampu merahnya.
Ia baru akan berhenti menjadi anak jalanan kalau sudah tidak ada lagi orang yang punya belas kasihan. Ya, ia baru akan berhenti menjadi anak jalanan kalau orang-orang yang memberi uang lalu pergi itu sudah tidak ada lagi.
Kalau mereka masih ada, ia akan tetap menjadi anak jalanan, lalu menjadi bapak jalanan, lalu kemudian menjadi kakek jalanan.
Anak adalah anak. Seluruh aktifitas mereka terpusat dalam kata yang kita kenal dengan main. Mereka bisa melakukan segala sesuatu dengan bermain. Keberadaan anak jalanan di Cianjur begitu memprihatinkan. Jika anak berusia dibawah 12 tahun dapat hidup mandiri dijalanan, ini hal biasa. Bahkan mereka dapat bantu emak untuk beli minyak tanah. Kebebasan hidup di jalanan sesungguhnya memiliki peraturan keras dimana hanya mereka yang tahu. Jadwal hidup mereka tertata sebegitu alamiah. Mereka tahu sekolah. Mereka mau sekolah. Tetapi mereka mati kebosanan duduk tanpa aktifitas (main). Kemarin malam saya melakukan aktifitas (main) dengan mereka. Hasilnya: Mereka memberikan saya banyak maaf (krn terlambat), mereka memberikan saya banyak senyum, mereka memberikan saya banyak pose, dan ternyata mereka sangat suka difoto!! Saya bahagia sekali kemarin malam beraktifitas (main) dengan mereka. Ps. Beri mereka aktifitas, bukan uang receh. Setuju???
Tulisan anak Jalanan... hampir semuanya itu adalah betul adanya...
kecuali di saat mereka disuruh turun dari mobil dan ada suara lembut...
kejadiannya tidak demikian...
mereka kerap kali dikasari dan untuk keluar dari panti itu "orangtua" mereka harus menebus anaknya sebesar 20-50 rb satu anaknya... itulah mengapa saya tidak begitu suka dengan satpol-pp, hingga kasus terakhir dimana ada anak jalanan dipukuli sampai mati pun sampai sekarang belum jelas bagaimana tindak lanjutannya... tahun 99 saya Sekolah sambil mengamen... saya sedikit bisa main gitar, hanya kunci-kunxi dasar... A B C D E F dan G jadilah saya membawa lagu-lagu pop dan daerah bersama anak-anak lain di atas bus kota... mungkin nanti saya akan cerita lebih banyak tentang kehidupan di jalanan ini...saran saya kalau anda ingin membantu... jangan kasih cepek... susah ngitungnya hahaha... kasih saja 500 atau seribu... mereka pasti lebih senang... Oh..iya... mereka juga sering makan lho di warung-warung nasi di samping Ramayana Kota Cianjur ... Atau disamping Hipermat sambil nonton tv di situ...
jika anda berkata jangan diberi uang... anda keliru... tapi walaupun anda tidak memberi... masih ada ALLOH SWT yang memelihara mereka ...
Dan mereka akan senantiasa merasakan kebahagiaan, karena kebahagiaan itu bukan hanya diukur dengan materil saja ...............
HIDUP ANAK JALANAN,...........!!!!!!!!!!!
HIDUP ANAK JALANAN,...........!!!!!!!!!!!
HIDUP ANAK JALANAN,...........!!!!!!!!!!!
HIDUP ANAK JALANAN,...........!!!!!!!!!!!
hebat yah anak jalanan ???????!!!!!!
BalasHapus