Rabu, 12 Januari 2011

bagai mana kalo a gozil zainul B di tolak mentah-mentah?????????

“Maaf A ghozil, bukannya saya tidak menghormati permintaan aa. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga aa menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.”


Bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para sobatttttt?
Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping.
Sang pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik cinta kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam.
Cinta suci sobat bertepuk sebelas tangan.
(sama aja ganjilnya ko)
Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam.
Ada yang menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan.
Ini bukan saja dialami oleh para cowok, kaum cewek pun bias mengalaminya. Bedanya, para cwok mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses mengungkapkan. Sehingga getirnya kegagalan cinta –seandainya memang terasa getir- langsung terasa.
Sedangkan kaum cewek perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu ungkapan. Tapi manakala sang cowok yang didamba memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.
Sobatttttt, siapapun berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa’ (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang.
Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa.
Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa.
Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah mansia normal seutuhnya.
Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana.
Tapi akan memberikan pelajaran beharga pada manusia.
Seorang filsuf bernama John Charles Salak mengatakan : "Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya".
Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT. Agar kegagalan mengungkapkan cinta tidak menjadi petaka, maka sobat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada beberapa langkah yang bisa diambil diantaranya:
Percayai qadla
Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup itu ada kalanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dsb. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar